Resensi Film
Berani
Bermimpi, Bijak dengan Sesama
Rumah Tanpa
Jendela
Penulis : Aditya Gumay
Adenin Adlan
Adenin Adlan
Sutradara : Aditya Gumay
Pemeran :
Emir Mahira
Dwi Tasya
Raffi Ahmad
Inggrid Widjanarko
Yuni Shara
Aswin Fabanyo
Alicia Djohar
Aty Cancer Zein
Varissa Camelia
Indra Bekti
Dwi Tasya
Raffi Ahmad
Inggrid Widjanarko
Yuni Shara
Aswin Fabanyo
Alicia Djohar
Aty Cancer Zein
Varissa Camelia
Indra Bekti
Aditya Gumay
(lahir di Jambi, 4 Oktober 1966; umur 48 tahun)
adalah sutradara film berkebangsaan Indonesia.
Namanya mulai dikenal publik sejak menyutradarai acara Lenong Bocah yang ditayangkan oleh stasiun RCTI pada dekade 1990-an. Ia adalah
pengasuh sanggar Kawula Muda dan sanggar Ananda yang didirikannya pada tahun 1986. Sanggar itu yang
banyak membantu ikut mengorbitkan artis-artis melalui kegiatan-kegiatannya. Agnes
Monica, Olga Syahputra, Ruben Onsu,
Okky
Lukman, dan Indra Bekti adalah artis Indonesia yang melejit melalui
sanggar itu.
Awal film ini biasa-biasa saja menurut saya. Tak ada sesuatu yang langsung
menggugah, bahkan saya sempat memprediksi akan sangat membosankan dan sedikit
menyesal sudah mengeluarkan uang untuk membeli tiket menonton film ini.
Film ini bercerita tentang dua keluarga. Keluarga pertama adalah keluarga
yang sangat sederhana. Hidup di gubuk-gubuk kawasan pemulung, dengan satu
kepala keluarga, satu nenek (yang disebut simbok), dan satu gadis kecil bernama
Rara. Keluarga sederhana dengan impian yang tentu saja sederhana pula. Rara
bermimpi ingin memiliki jendela, karena ia selama ini hidup dalam rumah tanpa
jendela.
Keluarga ke dua adalah keluarga yang kaya raya nan sempurna. Kaya, anggota
keluarganya lengkap, ada ayah, ibu, nenek, dan tiga orang anak. Anak terakhir
dari keluarga ini adalah Aldo, seorang anak laki-laki yang memiliki kelainan.
Tak jelas memang kelainannya apa, tapi tergambar dalam film itu Aldo begitu
rapuh, kadang bicara dengan nada dan gestur tubuh yang patah-patah. Rara dan
Aldo inilah yang menjadi cerita utama dalam film ini.
Film ini tidak mempertentangkan antara kekayaan dan kemiskinan, seperti
prediksi saya pada awalnya. Tidak pula mempersalahkan si kaya kemudian
memperpahlawankan si miskin, atau membuat si miskin seakan teraniaya seperti
kebanyakan film dan sinetron yang kita temui. Film ini film keluarga,
yang mengajari penontonnya untuk tak takut bermimpi untuk orang-orang seperti
Rara dan keluarganya, sekaligus memberi pelajaran kepada keluarga-keluarga
mapan untuk menghargai orang lain, meski ia miskin, meski penuh kekurangan.
Film Tanpa Tokoh Antagonis
Kalau tadi saya menulis bahwa awal film ini tak begitu istimewa, saya
buru-buru meralat anggapan saya setelah 10 menit pertama film ini diputar.
Kekuatan film ini ada pada cerita yang begitu natural dan dahsyat. Berbeda
dengan film-film lainnya yang menjual konflik, mempertontonkan kemarahan,
mempertentangkan antara kebaikan dan kejahatan, film ini bahkan tak ada tokoh
antagonis-nya. Keluarga Rara, meski sederhana tapi merupakan keluarga bahagia,
ayahnya begitu menyayanginya, ibunya yang sudah meninggal juga digambarkan
begitu sayang, juga nenek atau simboknya. Keluarga Aldo yang kaya raya juga
digambarkan merupakan keluarga yang hangat. Kalaupun ibu dan kakak perempuan
Aldo dalam cerita digambarkan tak begitu bijak dan malu dalam menerima
kehadiran Aldo yang ‘tidak normal’, tapi itu merupakan reaksi yang sangat alami
dan sangat mungkin dilakukan oleh semua orang yang menerima kejadian serupa.
Pada akhirnya mereka juga digambarkan menyadari ketidak bijakan-nya dan
menerima Aldo apa adanya.
Siapkan Tissue!
Alur cerita dalam film ini membuat penontonnya begitu nyaman mengikuti alur
demi alur. Kalau Anda normal, saya yakin akan berurai air mata dalam beberapa
adegan. Bahkan ketika tokohnya tak menangis, kita yang menangis. Kata seorang
penonton seusai keluar studio, “Kok aku jadi pilek ya?”, kebanyakan nangis kali
ya mbak.
Maka akan bijak kalau sebelum menonton siapkan tissue agar tak repot-repot
untuk menyeka air mata yang akan menetes. Akting Emir Mahira yang sangat
natural sebagai Aldo, patut diacungi jempol dan menjadi salah satu kekuatan
penting hidupnya film ini. Dwi Tasya yang
berperan sebagai Rara pun terlihat sangat prima dan mampu memberikan ‘chemistry’ yang sangat dalam ketika
beradu peran dengan Emir Mahira.
Selain itu juga terdapat sederet bintang, seperti Raffy Ahmad sebagai
bapaknya Rara, Inggrid Wijanarko sebagai simbok-nya Rara, Alicia Johar sebagai
ibu Aldo, dan Aty Kanser sebagai nenek Aldo.
Dan ada catatan dalam film ini, mungkin Raffy Ahmad yang tidak begitu
pantas menjadi seorang pemulung yang harusnya miskin dan tidak ganteng. Tapi
kekurangan itu tertutupi oleh akting yang bagus dan sedikit make-up brewok
untuk memberi kesan lebih dewasa.
Anyway, film ini
layak dan sangat layak ditonton untuk para keluarga, untuk yang ingin punya
anak, atau yang sudah punya anak. Wajib ditonton untuk mereka yang dekat dengan
anak-anak yang berkebutuhan khusus.
Komentar
Posting Komentar