Langsung ke konten utama

Rumah Tanpa Jendela

Resensi Film



Berani Bermimpi, Bijak dengan Sesama

 

Rumah Tanpa Jendela
Penulis            : Aditya Gumay
  Adenin Adlan
Sutradara       : Aditya Gumay
Pemeran         :
Tanggal rilis/Pertama tayang : 24 Februari 2011 (di seluruh bioskop Indonesia)


Aditya Gumay
(lahir di Jambi, 4 Oktober 1966; umur 48 tahun) adalah sutradara film berkebangsaan Indonesia. Namanya mulai dikenal publik sejak menyutradarai acara Lenong Bocah yang ditayangkan oleh stasiun RCTI pada dekade 1990-an. Ia adalah pengasuh sanggar Kawula Muda dan sanggar Ananda yang didirikannya pada tahun 1986. Sanggar itu yang banyak membantu ikut mengorbitkan artis-artis melalui kegiatan-kegiatannya. Agnes Monica, Olga Syahputra, Ruben Onsu, Okky Lukman, dan Indra Bekti adalah artis Indonesia yang melejit melalui sanggar itu.
Awal film ini biasa-biasa saja menurut saya. Tak ada sesuatu yang langsung menggugah, bahkan saya sempat memprediksi akan sangat membosankan dan sedikit menyesal sudah mengeluarkan uang untuk membeli tiket menonton film ini.
Film ini bercerita tentang dua keluarga. Keluarga pertama adalah keluarga yang sangat sederhana. Hidup di gubuk-gubuk kawasan pemulung, dengan satu kepala keluarga, satu nenek (yang disebut simbok), dan satu gadis kecil bernama Rara. Keluarga sederhana dengan impian yang tentu saja sederhana pula. Rara bermimpi ingin memiliki jendela, karena ia selama ini hidup dalam rumah tanpa jendela.
Keluarga ke dua adalah keluarga yang kaya raya nan sempurna. Kaya, anggota keluarganya lengkap, ada ayah, ibu, nenek, dan tiga orang anak. Anak terakhir dari keluarga ini adalah Aldo, seorang anak laki-laki yang memiliki kelainan. Tak jelas memang kelainannya apa, tapi tergambar dalam film itu Aldo begitu rapuh, kadang bicara dengan nada dan gestur tubuh yang patah-patah. Rara dan Aldo inilah yang menjadi cerita utama dalam film ini.
Film ini tidak mempertentangkan antara kekayaan dan kemiskinan, seperti prediksi saya pada awalnya. Tidak pula mempersalahkan si kaya kemudian memperpahlawankan si miskin, atau membuat si miskin seakan teraniaya seperti kebanyakan film dan sinetron yang kita temui.  Film ini film keluarga, yang mengajari penontonnya untuk tak takut bermimpi untuk orang-orang seperti Rara dan keluarganya, sekaligus memberi pelajaran kepada keluarga-keluarga mapan untuk menghargai orang lain, meski ia miskin, meski penuh kekurangan.
Film Tanpa Tokoh Antagonis
Kalau tadi saya menulis bahwa awal film ini tak begitu istimewa, saya buru-buru meralat anggapan saya setelah 10 menit pertama film ini diputar. Kekuatan film ini ada pada cerita yang begitu natural dan dahsyat. Berbeda dengan film-film lainnya yang menjual konflik, mempertontonkan kemarahan, mempertentangkan antara kebaikan dan kejahatan, film ini bahkan tak ada tokoh antagonis-nya. Keluarga Rara, meski sederhana tapi merupakan keluarga bahagia, ayahnya begitu menyayanginya, ibunya yang sudah meninggal juga digambarkan begitu sayang, juga nenek atau simboknya. Keluarga Aldo yang kaya raya juga digambarkan merupakan keluarga yang hangat. Kalaupun ibu dan kakak perempuan Aldo dalam cerita digambarkan tak begitu bijak dan malu dalam menerima kehadiran Aldo yang ‘tidak normal’, tapi itu merupakan reaksi yang sangat alami dan sangat mungkin dilakukan oleh semua orang yang menerima kejadian serupa. Pada akhirnya mereka juga digambarkan menyadari ketidak bijakan-nya dan menerima Aldo apa adanya.
Siapkan Tissue!
Alur cerita dalam film ini membuat penontonnya begitu nyaman mengikuti alur demi alur. Kalau Anda normal, saya yakin akan berurai air mata dalam beberapa adegan. Bahkan ketika tokohnya tak menangis, kita yang menangis. Kata seorang penonton seusai keluar studio, “Kok aku jadi pilek ya?”, kebanyakan nangis kali ya mbak.
Maka akan bijak kalau sebelum menonton siapkan tissue agar tak repot-repot untuk menyeka air mata yang akan menetes. Akting Emir Mahira yang sangat natural sebagai Aldo, patut diacungi jempol dan menjadi salah satu kekuatan penting hidupnya film ini. Dwi Tasya yang
berperan sebagai Rara pun terlihat sangat prima dan mampu memberikan ‘chemistry’ yang sangat dalam ketika beradu peran dengan Emir Mahira.
Selain itu juga terdapat sederet bintang, seperti Raffy Ahmad sebagai bapaknya Rara, Inggrid Wijanarko sebagai simbok-nya Rara, Alicia Johar sebagai ibu Aldo, dan Aty Kanser sebagai nenek Aldo.
Dan ada catatan dalam film ini, mungkin Raffy Ahmad yang tidak begitu pantas menjadi seorang pemulung yang harusnya miskin dan tidak ganteng. Tapi kekurangan itu tertutupi oleh akting yang bagus dan sedikit make-up brewok untuk memberi kesan lebih dewasa.
Anyway, film ini layak dan sangat layak ditonton untuk para keluarga, untuk yang ingin punya anak, atau yang sudah punya anak. Wajib ditonton untuk mereka yang dekat dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus.
   




Komentar