Langsung ke konten utama

Cerpen Pengemis Jalanan



Pengemis Jalanan
Lonceng yang terbentuk dari logam kekuningan yang tergantung di depan ruang guru berbunyi tiga kali tanda jam pelajaran berganti dengan pulang sekolah. Seluruh siswa berbondong-bondong keluar kelas dan pergi ke rumah masing-masing. Setelah sampai ke rumah, Sucipun bergegas untuk mengganti pakaiannya.
“Suci!” terdengar ibu memanggilnya dengan suaranya yang khas. Tanpa berpikir panjang Suci langsung menghampiri ibunya setelah menjawab panggilan ibu dan turun untuk menemui ibunya.
“Ada apa bu?” serunya menjawab panggilan ibu.
“Bibi sedang sakit, tolong gantikan bibi ke pasar sana!” jawabnya meminta.
“Tapi kan bu…”
“Sudah tidak apa-apa, nanti hanya membeli sayuran dan buah-buahan yang segar yang terdapat pada daftar belanjaan!”
Padahal Suci belum melanjutkan pembicaraannya, tapi ibunya sudah memotong pembicaraannya. Dengan berat hati Suci pergi ke pasar membeli pesanan ibunya. Sesampainya di pasar, Suci malas sekali dengan suasana pacar yang becek dan ramai. Akhirnya Suci memutuskan untuk melangkahkan kaki ke dalam pasar. Suasana di pasar sangat ramai dan orangnyapun sangat ramah kepada pembeli. Di dekat parkiran Suci melihat seorang anak kecil yang kira-kira berumur sepuluh tahun, anak itu sedang mengemis. Karena merasa kasihan, Sucipun langsung berlari menghampiri anak itu.
“Hai dik!” sapa Suci dengan ramah sambil tersenyum.
“Hai kak!” sahutnya dengan muka yang sedikit takut.
“Namaku Suci, kamu siapa?” sambil menjulurkan tangannya.
“Aku Lia kak!” jawabnya dengan singkat.
“Kamu sedang apa di sini?” tanya suci dengan keheranan.
Lia tidak menjawab pertanyaan dari Suci, ia langsung berlari. Tanpa berpikir panjang Suci langsung mengejar Lia. Suci sangat lelah, tetapi ia ingin mencari tahu siapa Lia sebenarnya. Walaupun Lia sudah berada sangat jauh. Pengejaran Liapun berhenti di suatu tempat yang sangat banyak anak-anak jalanan. Di dalam hati Suci, ia bertanya “Tempat apa ini? Siapa anak-anak yang berada di tempat seperti ini?” Lia ternyata tau kalau Suci mengikutinya dan ada di dekatnya, Lia menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya. Sucipun terkaget dengan berjalan perlahan-lahan menuju puluhan anak jalanan itu, Suci melihat di sekitar, “Ini adalah tempat yang tak layak dihuni untuk seumuran mereka. Umur mereka masih terlalu kecil untuk tinggal di bawah jembatan ini” serunya dalam hati.
“Bil, mereka semua adikmu?” tanya Suci.
“Tidak, mereka temanku kak!” jawabnya singkat
“Lalu dimana kedua orang tuamu?” tanyanya dengan penasaran dan heran.
Lalu Lia menceritakan semua tentangnya, dia bercerita bahwa sejak kecil ia sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya, juga ia belum pernah merasakan yang namanya kasih sayang kedua orangtua. Belaian lembut seorang Bapak, dan pelukan sayang seorang Ibu. Ia saja tidak pernah tahu siapa dan kemana kedua orangtuanya selama ini dan juga tidak pernah merasakan bersekolah. Suci menjadi merasa sangat kasihan kepada Lia.
“Sungguh? Bagaimana kalian mencari uang tanpa ada bimbingan orang tua?” tanyanya dengan kaget.
“Kami meminta-minta di lampu merah, di jalanan, di dalam mikrolet dan bus, dengan alat apa adanya. Kamu semua dan kebanyakan dari kami menupakan anak yatim piatu termasuk aku dan adikku”
“Apa kamu tidak merasakan capek?”
“Ya, mau bagaimana lagi kak. Ini semua untuk kehidupanku dan adikku.” Jawabnya sambil menunduk.
Suci merasa tak tahan dengan dengan kondisi yang tuhan perlihatkan kepadanya. Ia tak hatu harus berbuat apa untuk mereka “Mungkin saja tuhan mengirimkanku untuk membantu anak-anak jalanan ini. Semoga aja yang kupikirkan benar.” harapnya dalam hati.  Setelah bercerita banyak kepada anak-anak itu, kisah sedihpun selesai dan dilanjutkan dengan canda dan tawa yang membuat anak-anak itu tertawa terbahak-bahak, tak lupa mereka menceritakan kehidupan mereka yang alur ceritanya berputar-putar, dan Suci hanya bisa tersenyum dengan apa yang mereka katakan padanya dan iapun juga sangat senang melihat mereka tersenyum lebar. Tanpa sadar ternyata hari sudah malam. Sucipun bergegas pulang ke rumah. Ibunya bertanya-tanya dengan agak sedikit kesal kenapa ia pulang sangat terlambat.
“Kenapa kamu pulang jam segini?” tanya ibunya dengan sangat heran dan suara membentak.
“Itu bu…” jawabnya dengan terbata-bata.
“Kemana saja kamu?”
“Tidak kemana-mana bu.”
“Bohong! Ayo jawab dengan jujur!”
“Tadi aku bertemu dengan pengemis bu” jawab Suci sambil menunduk.
Lalu,  Suci langsung menceritakan semuanya yang ia liat di pasar dan saat pulang tadi. Suci berniat untuk membantu anak-anak tadi. Ibunya yang semula marah menjadi tidak marah lagi. Suci langsung memeluk ibunya.
Haripun telah berganti dan tak terasa minggu setelah kejadian itu tiba. Hari ini setelah pulang sekolah, Suci berniat untuk menemui mereka di bawah jembatan tempat mereka bertempat tinggal. Dari kejauhan, Suci melihat Lia dan temannya yang sedang merasa lelah setelah mengamen dan menjualkan koran-koran. Suci langsung menghampiri mereka.
“Hai adik-adik gimana kabar kalian?” tanyanya.
“Baik-baik saja kok kak” jawab Lia.
“Kalian capek ya? Ini kakak bawakan makanan untuk kalian”
“Wah banyak sekali kak. Terimakasih kak!”
Suci sangat senang melihat anak-anak itu juga senang karenanya. Tapi sejak hari itu Suci bertekad  tak akan pernah berhenti berjuang menghadapi masalah kehidupan ini dan setiap hari Suci tak lupa membawakan makanan untuk Lia dan teman-temannya. Suci  berharap hari besok Lia dan teman-temannya tetap bisa melanjutkan hidup dan Suci berharap suatu saat nanti, akan ada sosok pengganti orangtua yang selama ini Lia rindukan kehadirannya akan datang dalam keadaan hidup dan mampu menyekolahkannya, memberi makan, pakaian, tempat tinggal dan kehidupan yang layak.


















Mengkonversi Teks Eksplanasi Menjadi Cerpen
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8ZMYbz1CEege8Aqc-eDdoWQnylZINcvHREtHfHiYRSJtudMGMOz7Uo9iROqbfKBHsAlpmwTRhWlieGMClbszqtpzFHClUinn5E1cjKSZearp7Rt1BzeILyUnbJTIZxxWF8FIi4JEwyPUT/s1600/LOGO+42+TRANSP.gif
Disusun oleh:
Riza Ananda (31)
Kelas:
XI-MIA 4

Jl. Rajawali Halim Perdana Kusuma Telp. (021) 809316 Fax. (021) 80887233 Jakarta Timur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis Novel Nyanyi Sunyi dari Indragari

Sinopsis novel Nyanyi Sunyi dari Indragari Pada April 1998, saat keadaan politik memburuk akibat jatuhnya harga rupiah. Keadaan tersebut menyebabkan harga getah karet dan kayu melambung tinggi. Markoni datang ke rumah dan mengatakan bahwa PT Riau Maju Timber melakukan penebangan kayu hampir sampai perbatasan kampung sehingga mengakibatkan beberapa hutan di kampung sebelah sudah lenyap. Panas terik sepanjang tahun mengakibatkan beras menjadi langka, pohon karet tak mengeluarkan getah karena tak tersiram air. Penebangan hutan yang tidak terkontrol dan pembakaran yang dilakukan membuat bencana itu selalu datang. Dampak penebangan hutan menyebakan banjir tiap tahun dan kemarau membakar dan mengeringkan sawah ladang. Hingga suatu ketika banjir bandang menerjang rumah dan menghanyutkan abah Kalid. Kematian seorang ayah semakin menyalakan api dendam yang tumbuh di dada Kalid.  Lalu Kalid membakar base camp milik PT Riau Maju Timber yang menyebabkan masyarakat banyak menderita a...

TUGAS PERTAMA MATA KULIAH METODE PENELITIAN 2018/2019

Review Jurnal Pengembangan Model Variable Review Period dengan Mempertimbangkan Order Crossover link jurnal : http://jurnalindustri.petra.ac.id/index.php/ind/article/view/18967 Abstract: In this paper, we propose a variable review period model using dynamic programming for order crossover problem. The proposed model is compared to an existing variable review period model and classical review period in terms of minimum inventory cost. The simulation is applied with six scenarios and sensitivity analysis is also done. The results show a variable review period model performs smaller inventory cost for small variation of lead-time compared to classical review period model. On the other hand, classical periodic review model is sensitive with the changes in the variation of demand distribution and service level. The proposed model gives the better solution compared to variable review period model for the six scenarios with the inventory cost saving as 11-42%. The sensitivity...