Cokelat Putih
Karya Riza Ananda
Nevi seorang anak yatim piatu saat ia
berusia 14 tahun setelah orang tuanya kecelakaan dan sekarang ia tinggal
bersama paman dan bibinya. Selama tinggal bersama dengan paman dan bibinya, ia
mempunyai seorang teman yang bernama Khaffi yang satu sekolah dengannya, tetapi
berbeda kelas dengannya.
“Ini
apa?” tanya Nevi kepada Khaffi. Khaffi mengangkat alisnya dan melihat cokelat
putih dikolong meja Nevi.
“Penggemar rahasia?” jawab Khaffi.
“Hah? Penggemar rahasia?” Nevi melongo
melihat mengarah Khaffi.
“Kalau kamu tidak mau buat aku saja”
Khaffi berjalan meninggalkan kelas dengan membawa bungkus cokelat putihitu.
“Bukan begitu. Apa kamu tahu siapa
pengirimnya?” Nevi mengejar langkah Khaffi, sementara Khaffi cuek dan mempercepat
langkahnya.
“Khaffi...” teriak Nevi
“Nia, apa kamu mau cokelat ini? Ini
buat kamu, Nevi tidak suka” kata Khaffi dengan seenaknya.
Nevi tidak habis pikir dengan Khaffi,
dia menjadi kesal dengannya. Nevi ingin sekali merebut cokelat putih itu dari
Nia, tapi Nia tersenyum kepadanya akhirnya Nevi juga tersenyum melihat Nia.
Semantara itu Nevi terus berlari mengejar Khaffi. Ia berlari sangat cepat,
mereka terlihat seperti orang yang lari pagi, tapi juga terlihat aneh karena
menggunakan seragam sekolah.
Pada keesokan harinya di kolong meja
Nevi terdapat sebungkus cokelat lagi. Kali ini dengan menggunakan pita merah
muda. Nevi sebenarnya suka dengan cokelat, tetapi dia tidak menyukai cokelat
putih. ia tidak menyukai susu putih, keju dan juga cokelat putih. Nevi
mengambil bungkus cokelat putih itu dan ingin memberikannya kepada Khaffi lagi.
“Apa kamu mau cokelat lagi?” Nevi
bertanya kepada Khaffi yang sedang duduk di bangku sambil membaca buku.
“Maksudnya?” kata Khaffi.
“Siapa tahu saja kamu suka. Aku tidak
suka cokelat putih” jawab Nevi.
“Kasih Nia saja, dia suka” Khaffi
menatap Nevi.
“Nia tidak masuk, dia sakit” kata
Nevi.
“Kamu pikir aku suka cokelat? Aku gak
suka cokelat. Aku suka kopi” Khaffi berjalan meninggalkan Nevi.
Nevi tidak tahu mau diapakan cokelat
putih itu, akhirnya ia memberikannya kepada seorang anak pengemis saat ia
pulang sekolah.
Sudah dua hari Khaffi tidak masuk
sekolah, Nevi tidak tahu kenapa Khaffi tidak masuk sekolah. Nevi ingin
menanyakannya kepada Nia yang sekelas dengan Khaffi dan memberikan cokelat
putih kepada Nia.
“Kamu pasti suka kan? Aku tidak suka
cokelat putih” kata Nevi.
“Iya terima kasih untuk cokelatnya”
jawab Nia sambil tersenyum.
“Khaffi tidak masuk sekolah lagi ya?”
tanya Nevi penasaran.
“Khaffi sedang sakit” jawab Nia
singkat.
“Ohh begitu. Terima kasih ya” Nevi
langsung meninggalkan Nia.
Sebenarnya Nevi ingin bercerita
banyak tentang cokelat putih itu. Juga tentang Khaffi. Dia benar-benar ingin
bercerita bagaimana menghentikan cokelat putih itu. Tapi ini Nia dia cantik dan
disukai banyak orang, dia juga dekat dengan Khaffi, jadi Nevi memilih untuk
diam dan kembali ke kelas. Nevi menyukai Khaffi sejak kelas X SMA, tetapi ia
tahu kalau Khaffi juga dekat dengan Nia, jadi ia selalu menghindar kalau
melihat Khaffi dengan Nia.
Khaffi
kembali masuk sekolah setelah dua hari tidak masuk sekolah. Nevi tahu, Khaffi
baik-baik saja. Tapi Khaffi tidak menyapa seperti dulu, tidak juga tersenyum.
Dia hanya diam duduk disamping Nia yang juga diam. Nevi tidak ingin mengganggu
mereka berdua, jadi ia menjauh dari mereka. Semakin Khaffi dan Nia terlihat
semakin dekat, sedangkan hubungan Nevi dan Khaffi tidak seperti dulu.
Sebenarnya Nevi sangat cemburu melihat Nia dekat dengan Khaffi.
Bel
istirahatpun berbunyi, murid-murid yang awalnya berada di dalam kelas langsung
berhamburan keluar. Nevi segera menuju ke kantin karena lapar. Tempat duduk di
kantin sudah penuh. Hanya ada satu tempat kosong yaitu disebelah Khaffi yang
juga sedang makan bersama teman-temannya. Karena tidak ada pilihan lain Nevi pun
duduk disamping Khaffi dan Khaffi menyapanya.
“Hai” sapa
Khaffi.
“Iya hai
juga” jawab Nevi sambil tersenyum.
“Apa aku
boleh bertanya?” Khaffi memandang Nevi.
“Kamu mau
tanya apa?” kata Nevi penasaran.
“Kenapa kamu
sekarang agak berubah?” tanya Khaffi.
“Berubah
apanya? Apa ada yang beda dariku?” jawab Nefi gugup.
“Kamu
seperti menjauh dariku” jawab Khaffi dengan suara pelan.
“Hmm itu,
aku hanya tidak ingin mengganggu hubunganmu dengan Nia” kata Nevi, tetapi
Khaffi ketawa.
“Kenapa kamu
ketawa?” sambung Nevi.
“Aku dengan
Nia hanya berteman saja. Aku dan Nia sudah berteman sejak lama” jawab Khaffi
sambil melanjutkan makannya.
Saat
mendengar jawaban Khaffi, Nevi merasa senang sekali. Orang yang ia sukai
ternyata tidak menyukai temannya, Nia. Nevi dan Khaffi kembali dekat lagi.
Nevi tidak bisa tidur, biasanya ia
selalu tidur nyenyak. Nevi mencoba untuk bisa tidur, tetapi ia tetap tidak bisa
tidur. Ia memikirkan siapa yang selama ini mengirimkannya cokelat putih di
kolong mejanya. Ia berfikir tidak mungkin Khaffi yang mengirimkan cokelat itu.
Khaffi selalu marah ketika Nevi membahas tentang cokelat putih itu. Tetapi dia
juga berfikir mungkin saja teman cowok yang dekat dengannya akan menyukainya.
Karena penasaran Nevi datang lebih
awal masuk sekolah untuk mengetahui siapa yang menaruh cokelat putih itu di
kolong mejanya selama ini. Ia tidak menyangka ternyata dugaannya benar selama
ini Khaffi yang menaruh cokelat putih itu di kolong mejanya.
“Jadi kamu yang yang selama ini
menaruh cokelat itu?” kata Nevi menghampiri Khaffi.
“Hmmm, iya” Jawab Khaffi gugup.
“Pada saat kamu tidak masuk sekolah
siapa yang menaruh cokelat putih tiu di kolong mejaku?” tanya Nevi penasaran.
“Nia” jawab Khaffi singkat.
“Kenapa kamu
melakukannya?” Nevi menatap Khaffi dengan kecewa.
“Karena aku
menyukaimu vi” jawab Khaffi sambil menundukkan kepalanya.
“Kenapa kamu
harus melakukan semua ini? Sebenarnya aku juga menyukaimu. Kamu tidak perlu
melakukan ini. Kamu kan sudah tahu kalau aku tidak suka dengan cokelat putih”
kata Nevi tersenyum melihat Khaffi dan Khaffi juga tersenyum malu.
“Aku menaruh
cokelat putih itu karena kamu seperti cokelat putih” jawab Khaffi.
“Tapi aku
tidak mengerti sama sekali maksud kamu” kata Nevi sambil menggelengkan kepala.
“Maksudnya,
Cokelat putih yang selama ini kamu benci akan tetap disebut cokelat sekalipun
cokelat itu berwarna putih. Seperti ciri, setiap orang mempunyai ciri
tersendiri. Kamu juga mempunyai ciri khas” jawab Khaffi sambil menatap Nevi.
Nevi
tersenyum setelah mendengar perkataan Khaffi dan akhirnya mereka berdua
berpacaran. Nevi sadar, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Khaffi “Cokelat
putih yang selama ini kamu benci akan tetap disebut cokelat sekalipun cokelat
itu berwarna putih. Seperti ciri, setiap orang mempunyai ciri tersendiri”
seperti perasaan sayang yang cirinya saling menjaga dan melindungi walaupun
perasaan itu tidak terlihat, seperti cokelat putih.
Komentar
Posting Komentar